UA-31675260-1

Jakarta Baru bersama Jokowi-Basuki

Jakarta Baru adalah impian seluruh warga Jakarta dari mereka yang ada di pemukiman 'kumis' sampai para kalangan atas yang tinggal di kawasan elite seperti Menteng dan Kebayoran Baru. Semua sudah jenuh dengan wajah Jakarta yang campur-baur antara pemandangan mewah dan kumuh dikota metropolitan ini. Belum lagi aparat birokrasi yang terkenal korup dan tidak effisien. Semua berharap mulai tanggal 15  Oktober tahun 2012  yang merupakan hari pelantikan  Jokowi-Basuki sebagai pasangan Gub-Wagub akan ada perubahan yang kentara. Tidak hanya warga Jakarta bahkan masyarakat diluar Jakarta pun berminat mengikuti peristiwa ini. Bukan hanya didalam Indonesia, bahkan tampak warga Indonesia diperantauan pun yang sudah lama di Eropa dan Amerika tiba-tiba jadi tersentuh hatinya untuk ikut berpartisipasi mengurusi Jakarta. Coba anda lihat video Youtube mengenai teleconference  Wagub Basuki dengan Indonesian Diaspora.

Memang apa yang terjadi kali ini memang lain dari dulu-dulu. Jurnalis senior Budiarto Shambazy dari Kompas berkomentar mengenai Jokowi : “Dia pemimpin yang bersahaja, tapi mau bekerja, inilah yang jarang untuk ukuran sekarang. Ini ada istilahnya dalam demokrasi barat, pemimpin itu harus ‘You Mean What You Say, You Say What You Mean’, jadi apa adanya. Baru ketemu sekarang nih, sejak jaman Bung Karno, lama sekali kita menunggunya. Jadi apa yang dia ngomongkan, benar, apa yang dia lakukan sesuai dengan janjinya. Itulah yang kita kehilangan selama ini, baru sekarang ketemunya. …..Ingat SBY ditahun 2004? Ini SBY Plus! Kenapa Plus? Karena selain populeritas, dia punya rekam jejak !”jokowi-ahok

“Wanted badly: A Malaysian Jokowi”. Demikian judul sebuah tulisan oleh Syed Nadzri Syed Harun dalam suratkabar Malaysia berbahasa Inggris Free Malaysia Today dan The Malay Mail.  Saya baru kali ini merasa tersanjung waktu membaca, bahwa ada seorang pemimpin Indonesia yang dihargai di negara serumpun kita itu. Selama ini yang kita dengar dari seberang sana hanya  ‘Wanted : TKI/TKW’ . "Kita butuh Jokowi di sini. Dan seperti pernah dia katakan, dia tak ingin jadi presiden. Dia hanya menjalankan pekerjaan mulia." Bukan hanya penulis tersebut tetapi masih ada beberapa Datuk tokoh negara jiran itu yang memberikan sanjungan setelah bertemu dan melihat hasil kerja Jokowi.

Dalam tulisannya yang berjudul “Flooding Tests Jakarta’s Obama” itu, jurnalis BBC, Karishma Vaswan, menulis: Jokowi terlihat sebagai politikus yang bersih – seorang yang mau mendengarkan rakyat. Dia boleh dibandingkan dengan Presiden Obama, bukan saja karena perawakannya yang jangkung dan kurus, tetapi karena kemampuannya untuk berempati dengan rakyat kecil.

Majalah internasional The Economist menurunkan artikel  “The Capital’s Efficient Leader Breaks The Mould Of Indonesian Politicians” tanggal 26 Januari 2013 yang dapat dikutip sebagai berikut : “Jokowi membereskan persoalan. Sejak menjabat Oktober lalu, Joko Widodo, sang gubernur yang sederhana  dan populist(merakyat)  dari Jakarta, telah hidup sesuai dengan reputasinya sebagai ‘Mr Fix-It’. Setelah menjungkir-balikkan tatanan politik di Indonesia dengan menggeser gubernur petahana di  ibukota, ia jelas tampak beda sama sekali daripada  politisi lainnya yang pada umumnya terlihat korup, congkak dan menjaga jarak dari rakyat.

Pak Widodo, dikenal dengan panggilan "Jokowi," melakukan ‘blusukan’  secara mendadak melalui daerah kumuh,  berbicara dengan warga tentang akses kesehatan dan pendidikan. Ibuibu  rumah tangga tertawa-tawa ingin berfoto dengan dia.”  Jokowi memang populer, bukan saja di Indonesia, tapi sudah melewati batas negara sehingga New York Times juga menurunkan artikel mengenai Jokowi dan rusun Marunda.

Mantan Wagub DKI Priyanto menyatakan gaya kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dinilai mirip dengan gaya memimpin di militer. Sebagai pimpinan, Jokowi lebih banyak keluar meninjau langsung permasalahan dan segala sesuatunya. Sementara wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama, lebih mengurus hal-hal internal, seperti kepegawaian dan birokrasi.

"Dari perspektif kepemimpinan militer ini hampir ada kemiripannya. Kalau di militer wakil itu ibu rumah tangga, dia ada di dalam. Komandan atau panglima itu keluar untuk mempelajari segala sesuatunya," kata  MayJen TNI (Pur) Prijanto

Gaya Jokowi memimpin dinilainya semakin mirip dengan gaya memimpin di kemiliteran dari caranya memberikan petunjuk kepada wakil dan stafnya. Semua pembahasan dilakukan setelah Jokowi selesai meninjau dan memetakan permasalahan yang terjadi.

"Setelah tahu masalahnya, Jokowi mengumpulkan stafnya, memberikan petunjuk pada SKPD terkait. Otomatis staf berpikir, menyarankan atau beri alternatif, nanti tetap Jokowi yang putuskan. Itu bagus. Jadi, dalam perspektif militer, Jokowi dan Basuki sudah ideal. Itulah prosedur hubungan komandan dan staf di militer," ungkapnya.

Beda Gaya Kepemimpinan  Antara Jokowi  Dan Basuki

Jokowi dengan penampilannya yang bersahaja, bicaranya yang santai, dengan bahasa yang mudah dicerna, menyejukkan, murah senyum.Jokowi dinilai lebih kalem dan senang masuk ke kampung warga melihat langsung persoalan yang ada di masyarakat. Seperti saat membagikan langsung kartu Jakarta Sehat untuk warga di Cilincing, Jakarta Utara hingga berkunjung langsung ke sekolah yang ambruk.

Berbeda dengan sosok Ahok yang punya gaya koboi. Mantan Bupati Belitung ceplas-ceplos apa adanya seperti dalam rapat dengan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta mengingatkan pada sosok Ali Sadikin, Mantan Gubernur DKI Jakarta era 1966-1977. Bertolak belakang dengan Jokowi, Ahok bicara lantang apa adanya, tidak banyak senyum, cenderung mudah marah, kadang meledak-ledak. Gaya kepemimpinan Jokowi-Ahok mendobrak garis-garis birokrasi yang berbelit

Jokowi lebih banyak turba alias turun kebawah, melihat langsung kondisi masyarakat, apa saja yang mereka keluhkan dan apa yang harapkan dari Pemerintah, tidak hanya mendengar dari laporan bawahannya.Ahok lebih banyak di kantor, memimpin rapat dengan jajaran Pemda, bicara dengan Kepala Dinas, membahas anggaran dsb.

Persamaam adalah keduanya bersikap transparant, tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua kegiatan dan rapat bisa disaksikan di Youtube oleh warga  DKI  hari demi hari. Keduanya berkepribadian tegas yang telah terlihat dimasa jabatannya dulu. Jokowi tidak gentar menolak kehendak atasannya untuk perizinan pembangunan mall di Solo, karena hendak membela pedagang lemah di pasar tradisionil. Tetapi keduanya berhati lemah jika melihat rakyat kecil yang menderita seperti  seperti ibu yang membawa anak sementara suaminya menganggur. Karena itu mereka tidak segan-segan turun tangan sendiri  mencarikan pekerjaan 250 orang penghuni rusun Marunda di KBN Marunda dan Cakung.

Beda Gaya Kepemimpinan Jokowi -Basuki Dengan Yang Sebelumnya.

Mundurnya Kepala Dinas (Kadis) Perumahan DKI Jakarta Novrizal menguatkan dugaan para kadis tertekan dengan cara kerja  duet Jokowi-Ahok   Kepemimpinan mereka kelihatannya membuat gerah para kadis dibandingkan dengan cara memimpin Gubernur DKI Jakarta  sebelumnya, Fauzi Bowo (Foke).

"Memang karakter orang beda-beda ya. Saya selalu mengingatkan kalau Pak Foke itu penuh toleransi. Kalau Pak Jokowi kan beda, ingin merubah Jakarta, sehingga tidak bisa terlalu banyak toleransi," kata Ida Mahmuda Ketua Komisi DPRD DKI Jakarta, Rabu (13/2/2013)."Kalau pakai hati nurani, saya yakin mereka tidak akan keteter," singkatnya.

Sementara itu, soal toleransi yang kerap dilakukan Foke selama menjadi gubernur, Ida berpendapat, para Kadis sudah terbiasa menunda pekerjaan yang harus segera dikerjakan. "Kalau Pak Jokowi kan maunya kalau hari ini mau dikerjakan, kenapa harus nunggu besok? Harapan saya, kagetnya jangan lama-lama,"
Tapi Jakarta sekarang mulai sedikit berubah dengan masa kepemimpinan jokowi perlahan tapi pasti tindakan nyatanya mulai terlihat .. Tapi inilah figur pemimpin yang selama ini kita cari. Dengan kesederhanaan jokowi Jakarta berubah secara perlahan walaupun prosesnya menguras waktu. Mantan saingan Jokowi saat Pilgub DKI, Faisal Basri, angkat bicara soal kepemimpinan Gubernur Jakarta ini. Faisal menilai Jokowi sudah membuat banyak gebrakan untuk Jakarta.

Karena itu pula Faisal meminta warga Jakarta bersabar. Butuh waktu untuk membenahi banjir dan macet di Jakarta. "Kasih kesempatan, dia sudah berusaha keras. Banyak masalah yang dihadapi. Sudah ada kartu kesehatan. Masyarakat kan ingin cepat, tapi kan tidak segampang balik telapak tangan," kata Faisal Basri saat ditemui di KPK, Minggu (25/11).

Budaya asal bapak senang sudah tidak lagi mendapat tempat setelah Jokowi dan Ahok menjadi orang nomor satu dan dua di DKI.

Dalam sebuah rapat dengan jajaran Dinas Pendidikan DKI, terlihat sekali ahok menguasai permasalahan, tidak menerima begitu saja laporan, mengoreksi paparan yang disampaikan dan memberi gagasan untuk menyelesaikan persoalan pendidikan.

Sepertinya kedua orang ini sudah berada ditempat yang benar alias right man in the right place. Sudah saatnya gaya-gaya kepemimpinan lama kita tinggalkan. Kalau dulu jika Gubernur mau mengunjungi salah satu wilayah DKI, maka wilayah itu dibenahi dulu oleh aparat setempat agar memberi kesan baik dan bersih. Ketika Jokowi mengunjungi wilayah Bukit Duri, aparat tidak banyak melakukan itu, seperti apa adanya saja, mungkin itu yang Jokowi inginkan, sehingga dia tahu kondisi sebenarnya.

Dalam menerima paparan dari Dinas Pendidikan Ahok mengatakan, bahwa dirinya tidak pandai tetapi tidak juga idiot. Dia tidak mau Guru-guru makan uang haram karena dia juga tidak melakukannya, dia jamin dirinya jujur karena itu dia tidak mau dibohongi bawahannya  Sudah saatnya Jakarta dipimpin oleh orang-orang mengerti kondisi mau bekerja dengan hati nurani.

Sumber :

TVRI,  Soegeng Sarjadi Syndicate, Magneto Jokowi-Basuki, Senin, 12-11-2012, jam 20.00-21.00

Dirangkum dari Kompas, Kompasiana, Sindo, Free Malaysia Today, The Economist, BBC, SCTV Liputan 6, Okezone

Leave a Reply