UA-31675260-1

Jerman Kebanjiran

Gaganawati

Banjir memang menjadi masalah dunia. Tak hanya Indonesia, Bangladesh, Amerika … bahkan Jerman yang peduli dan ramah lingkungpun juga kebagian.

Bumi memang sedang sakit. Apa tanggapan warga Jerman atas banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah sekitar Baden-Württemberg dan sekitarnya?

Astaga. Januari hujan sehari-hari, ternyata tak hanya istilah yang saya kenal di tanah air. Sebelumnya, saya belum pernah melihat salah mangsa seperti hari-hari ini. Dua minggu libur Pfingsten, hanya barang satu dua hari saja yang kering dan matahari bersinar. Lainnya, hujan rintik tapi seharian … basah.

Alarm tanah longsor dan banjir diumumkan di SWR3. Radio itu memang selalu stand by, kami putar di dalam mobil.

Waktu saya tanya pada suami saya, ia mengatakan ini pasti karena hujan yang terus menerus.

Hari Sabtu, 31 Mei 2013, kami yang seharian berada di hutan, juga merasakan gejala yang tidak biasa. Beberapa menit dengan tanda 4 musim dan Überschwämung alias banjir dimana-mana. Lho, ini hutan, kok banjir? Bukankah sudah banyak pepohonan? Bukankah tanah tanpa aspal gampang meresap? Ternyata tidak, kubangan bekas roda traktor-traktor besar milik dua orang pengambil kayu yang lewat dan roda mobil kamipun juga menyebabkan genangan. Glondongan kayu yang belum diambil pemiliknya dan diletakkan di dataran yang agak rendah, terendam air!

Oh. Air mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah. Meski alirannya kecil, deras sekali. Saya ngeri, mana di hutan kan sepi. Untung ada Handy, kalau ada apa-apa bisa menghubungi. Tapinya suami saya bilang, seumur-umur tak pernah seperti ini. Untuk genangan yang terjadi di hutan rimbun, ini sudah masuk kategori luar biasa. Bencana!

Daerah Jerman yang kena banjir

Hari Sabtu, 31 Mei 2013, alarm banjir ternyata sudah digembar-gemborkan di kampung sebelah (Oberflacht, kota Tuttlingen, wilayah negara bagian Baden-Württemberg. Mereka yang tinggal di pinggir sungai Donau dekat jembatan sudah diberitahu bahwa debit air akan meninggi. Sementara yang terjadi, tembok penahan memang berhasil menghalangi air tak memasuki halaman atau rumah orang yang berada di pinggirnya, walhasil, air menjejali jalan raya.

 

Sungai Donau

Ini bukan rahasia lagi, karena salah satu penduduk di jalan Moos, menjual rumahnya lima tahun yang lalu dengan alasan ia sudah tak bisa mengurusi rumah (padahal karena phobia kebanjiran). Wanita berambut cepak itu memang lebih nyaman berada di kota sebesar Würzburg dan tinggal di apartemen kecil ketimbang rumah besar tapi kebanjiran terus (bukan dari hujan tapi dari sungai yang meluap tak mampu menampung air hujan yang banyak).

Kasihan yang membeli rumahnya sekarang. Dapat warisan banjir karena rumah yang terbeli ada tepat di pinggir sungai itu.

Kompasianer Cici yang bertandang ke rumah kami (bersama mbak Kris, si kembar dan mbak Anik) untuk ngopi-ngopi tertarik untuk melihatnya. Hah? Jerman banjir? Apa kata dunia? Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau banjir dilihatnya. Sayang, karena diluar dingin dan kami asyik ngobrol … lupa memotret banjir. Padahal letak sungai itu tak jauh dari rumah kami yang ada di dataran yang lebih tinggi (700 meter diatas permukaan air laut).

Pada hari Minggu, 2 Juni 2013, jalanan Jerman, Bundesstraße B10 antara jalan toll Pforzheim-Ost dan Mühlacker ditutup karena berbahaya (aquaplanning, kebanjiran air). Sejak minggu lalu (dimana hujan berhari-hari terjadi), radio SWR3 menggembar-gemborkan di jalur tol lain juga terjadi serupa dan mengingatkan para pengemudi untuk waspada dan hati-hati. Kalau tidak sangat mendesak, lebih baik berada dirumah saja daripada mengadakan perjalanan di cuaca yang buruk. Begitu pesan penyiar.

Kota Heidelberg mencatat debit air sungai Neckar sudah pada angka 5,25m (pukul 19.00 hari ini).

Dikabarkan Passau akan mendapat kiriman banjir pada hari Senin 3 Juni 2013. Seperti postingan saya terdahulu, kota yang dialiri sungai ini memang memiliki sejarah banjir sejak dulu kala (1500 an).

Read more....

via Jerman Kebanjiran.


Leave a Reply